Belajar Dari Jakarta Internasional School: Penyempurnaan Standar Pendidikan Nasional

Standar keselamatan dan standar kesehatan, merupakan sebuah standar yang menjadi wajib untuk ditambahkan pada standar nasional pendidikan ungkap pakar pendidikan Arief Rahman. Hal ini diungkapkan oleh Bapak Arief Rahman menanggapi sebuah peristiwa besar yang mencoreng lembaga pendidikan yang prestisius, Jakarta Internasional School. Sebelum membahas lebih lanjut mengenai kasus ini ada baiknya kita mengetahui standar pendidikan nasional yang tidak hanya berlaku di sekolah swasta namun juga sekolah negeri.

Standar Pendidikan Nasional itu adalah

1. Standar Kompentensi Lulusan

2. Standar Isi

3. Standar Proses

4. Standar Pendidikan dan tenaga pendidik

5. Standar Sarana dan Prasarana

6. Standar Pengelolaan Pendidikan

7. Standar Pembiayaan Pendidikan

8. Standar Penilaian Pendidikan

Kedelapan standar ini tertuang dalam Undang-Undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2007. Dan kebetulan saat ini pemilihan legislatif telah berakhir (dan kita menunggu hasil akhir dan keputusan Komisi Pemilihan Umum) tentunya para Anggota Legislatif masa bakti 2014-2019 harus menjadikan peristiwa ini sebagai sebuah pelajaran untuk membuat peraturan perundangan yang lebih mengikat lembaga pendidikan.

Saya tidak akan membahas stadarisasi ini lebih jauh karena topik pembahasan yang cukup krusial saat ini di masyarakat adalah terjaminnya keselamatan anak-anak peserta didik di tempat ia menempuh pendidikan.

Sekolah dengan standar internasional seperti Jakarta Internasional School mempunyai standar diatas rata-rata sekolah negeri. Baik dari tenaga pendidik, materi pendidikan, dan bahkan keamanan. Namun seperti yang diberitakan oleh Republika Online, seorang mantan guru JIS ternyata merupakan salah satu tersangka pencabulan anak di Amerika Serikat dan dicari oleh FBI. Bahkan Arief Rahman, yang mengakui sistem rekrutmen tenaga pendidik yang sangat bagus, terkejut mengetahui bahwa salah satu mantan tenaga pengajarnya adalah seorang pedofil. Hal ini tentu harus menjadi pelajaran bagi sekolah manapun, swasta atau negeri, untuk lebih memperketat saringan tenaga pendidiknya. Jangan sampai siswa menjadi korban yang membuat mereka trauma untuk sekolah.

Hal yang lebih menyedihkan lagi selain trauma yang dialami oleh siswa adalah adanya penyakit kelamin yang ditularkan oleh pelaku kepada korban.

Sayangnya ditengah keprihatinan terhadap kondisi korban pelecehan, sekolah berusaha menutup-nutupi aib ini. Hal ini wajar karena reputasi sekolah yang mentereng akan tercoreng bahkan JIS terancam akan ditutup dan tak boleh beroperasi lagi. Hukuman ini pantas bagi pihak sekolah yang tidak bertanggung jawab yang tidak memberikan rasa aman kepada siswa dan orang tua.

Saya berharap agar kasus ini dapat terang benderang dan hukum dapat ditegakkan kepada para pelakunya, sehingga amanat Undang-Undang Dasar 1945 dapat ditunaikan oleh negara untuk kemaslahatan rakyatnya.

 

 

Advertisements

Tinggalkan Balasan