BACK AFTER IDUL FITRI: BTW MET LEBARAN

Setelah sekian lama gak nulis akhirnya tergerak juga jemari untuk menari di atas keyboard. Ada beberapa hal menarik setelah lebaran yang mengusik hati dan pikiran saya. Pertama, saya jadi amat menghargai dan merindui berkumpul dengan sanak famili di hari raya tersebut. Ada sebuah sensasi yang betul-betul baru ketika berkumpul, bercerita, dan berbagi ide. Apakah sensasi itu hadir karena kita melangkah ke tangga kehidupan yang lebih tinggi? Atau itu yang disebut beranjak dewasa. Mungkin benar ungkapan yang berkata cinta akan terasa ketika orang yang dicinta itu tidak bersama kita. Dulu aku merasa adik-adikku amat menjengkelkan dan kami sering adu argumen hingga membuat orang tua menjadi cemas akan hubungan persaudaraan kami. Akan tetapi setelah kami berpisah sekarang karena kuliah dan bekerja perasaan rindu untuk selalu bertemu dan bertengkar itu hadir setiap waktu. Selama liburan kami menyempatkan diri untuk selalu bersama pergi kemana-mana bersama. Lebaran kali ini terasa lebih manis…

Kedua, perekonomian Indonesia yang dikhawatirkan akan kolaps ditengah kehancuran perekonomian dunia. Sebagai seorang sarjana yang menganggur aku merasa terganggu dengan tekanan media yang mewarning masyarakat akan ancaman krisis moneter. aku membayangkan berapa banyak lagi orang yang akan kehilangan pekerjaan ketika krisis tersebut kembali hadir. Berapa banyak korban yang akan tercatat dalam sejarah negeri ini karena rakyat kesulitan mendapatkan hal-hal yang pokok. Dan yang paling ngeri daerah mana lagi yang akan diberikan referendum hingga melepas diri dari NKRI. Perekonomian dunia entah kenapa tergantung dengan negara arogan yang memusuhi umat islam atas nama perang terhadap terorisme. Para ahli ekonomi dunia telah berkali-kali mewarning pemerintah Amerika atas kebijakan ekonominya, tetapi tidak didengarkan dengan serius. Dan kini pemerintah sibuk dengan langkah antisipasi terhadap krisis yang mengancam. Saya bukan seorang ekonom yang mengerti teknis-teknis besar dalam bernegara. Akan tetapi sebagai rakyat biasa saya mengerti satu hal. Saya butuh makan, saya butuh pekerjaan, saya butuh pelayanan kesehatan, saya butuh pendidikan, dan saya butuh keamanan.
Mari kita lihat kembali ke belakang. ketika krisis terjadi perusahaan-perusahaan besar banyak yang bermasalah. Dan pemerintah harus menyelesaikan masalah yang di perbuat perusahaan-perusahaan tersebut walau harus mengakibatkan bayi yang baru lahir harus menanggung hutang yang bahkan ia tidak pernah menikmati hutang tersebut.
Saatnya pemerintah harus lebih memperhatikan perusahaan atau kegiatan ekonomi rakyat kecil. Karena banyak literatur-literatur yang memberikan gambaran ketika perusahaan-perusahaan raksasa di indonesia ini kolaps atau bahkan mati, kegiatan ekonomi yang kecil-kecil ini yang mampu bertahan. Kegiatan ekonomi yang bersahaja, yang tidak terlalu rakus dengan kekayaan, kegiatan yang jujur.
Ketiga, dengan dihantui krisis ekonomi saat ini apakah saya akan tetap menjadi pekerja atau harus menciptakan lapangan kerja sendiri? Saya lebih tergerak untuk menciptakan lapangan kerja saya sendiri. Akan tetapi saya bingung harus dimulai dari mana. Internet marketing, menjadi guru privat, atau menjadi sales perusahaan pengkreditan. Yang jelas dengan pekerjaan sebagai operator warnet, yang hampir setahun saya jalankan, orang tua terutama ibu saya menjadi cemas dan membuatnya sedih. Pergi merantau adalah sebuah tradisi yang selalu dilakukan pemuda-pemudi minang, tetapi aku tidak ingin untuk pergi sekarang karena beberapa alasan. Dan alasan yang utama untuk merantau aku butuh modal paling tidak untuk hidup sebulan di negeri rantau. Dalam sebulan aku yakin akan mendapatkan pekerjaan. Tapi sekarang modal itu belum cukup untuk pergi. Dan daerah untuk ditinggali pun aku bingung. Jakarta atau Bandung memiliki sebuah kesempatan besar. Namun biaya hidup yang besar membuatku berpikir ulang. Apalagi rutinitas pekerja kota besar yang diceritakan oleh teman-teman yang telah bekerja di sana. Waktu akan lebih banyak dihabiskan dijalan, bukan bergerak namun karena kemacetan yang semakin parah.

Advertisements

Tinggalkan Balasan