About these ads

Adu Domba

adu domba garut
gambar via griyawisata.com

Anda mengenal istilah adu domba dalam kehidupan sehari-hari. Apakah anda tahu pengertian adu domba dan hukum perbuatan ini dalam ajaran Islam?

Pengertian Adu Domba

Adu Domba adalah sebuah perhelatan kebudayaan yang ada di Indonesia dimana dua ekor domba saling di adu oleh pemiliknya pada sebuah lapangan dan ditonton oleh khalayak ramai. Domba yang diadu tersebut akan saling serang hingga salah satu dari domba tersebut menyerah (dengan ditandai menghindari lawan) atau mati.

http://www.youtube.co.id/watch?v=kxknyujvzyM

Istilah ini kemudian dipakai untuk menggambarkan sebuah perbuatan dimana seseorang menghasut orang lain untuk saling bermusuhan satu sama lain.

Kamus besar Bahasa Indonesia mendefinisikan adu domba dengan menjadikan berselisih (bertikai) di antara pihak yang sepaham.

Dalam definisi diatas maka kita akan melihat jika perbuatan yang dikategorikan sebagai perbuatan adu domba adalah perbuatan yang sangat berbahaya. Makanya Agama melarang perbuatan ini untuk dilakukan oleh penganutnya. Khususnya umat Islam.

Adu Domba Dalam Islam

Dalam bahasa Arab, perbuatan adu domba disebut dengan namimah. Dikutip dari situs muslimah.or.id Al Baghawi menyatakan namimah adalah mengutip sebuah suatu perkataan dengan tujuan memecah belah seseorang dengan pembicara. Ada pun Ibnu Hajar Al-Asqalani mengatakan namimah tidak hanya mengutip perkataan untuk memecah belah tetapi mengatakan hal-hal yang tidak disukai orang untuk dibeberkan.

Berdasarkan kesepakatan ulama (ijma’) hukum dari namimah adalah HARAM. Hal ini berdasarkan pada dalil Al-Quran Surat Al-Qalam ayat 10 sampai 11 yang terjemahannya kira-kira seperti berikut;

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.

Rasulullah, Muhammad SAW. pun mengatakan “Tidak akan masuk surga bagi Al Qatat.”

Siapakah Al-Qatat itu?

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Al-Qatat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan rahasia antara dua orang) lalu membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dengan tujuan mengadu domba.

Pada riwayat lain disampaikan oleh Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah SAW. melewati dua kuburan lalu beliau bersabda, ” Sesungguhnya penghuni kedua kubur ini sedang diadzab. Dan keduanya bukanlah diadzab karena perkara yang berat untuk ditinggalkan. Yang pertama, tidak membersihkan diri dari air kencingnya. Sedang yang kedua, berjalan kesana kemari menyebarkan namimah.” (HR. Al-Bukhari)

Jadi bagaimana sikap kita jika seseorang melakukan namimah kepada kita?

6 Sikap Saat Merasa di Adu Domba

Imam nawawi memberikan saran untuk melakukan 6 sikap berikut:

  1. Jangan membenarkan perkataan orang yang menyampaikan.
  2. Mencela, menasehati dan mencela perbuatan orang yang menyampaikan
  3. Bencilah perbuatannya karena Allah.
  4. Tidak berprasangka buruk kepada saudara yang dibicarakan dalam namimah
  5. Tidak memata-matai atau mencari-cari aib saudara yang terkena namimah
  6. Jangan ikut-ikutan menyebarkan namimah yang ia dengar padahal ia sendiri melarangnya

Politik Adu Domba

Politik adu domba adalah kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukan. Dalam konteks lain, politik pecah belah juga berarti mencegah kelompok-kelompok kecil untuk bersatu menjadi sebuah kelompok besar yang lebih kuat. (wikipedia)

Politik adu domba adalah sebuah politik yang dijalankan oleh pihak Barat non muslim (VOC) kepada rakyat Nusantara berabad-abad silam.

Devide et impera merupakan kebijakan dari kolonial Belanda dalam menguasai Nusantara selama 350 tahun. Tidak sedikit peristiwa yang menggambarkan betapa liciknya kebijakan ini agar VOC dapat langgeng kekuasaannya.

Di Sumatera Barat VOC memecah belah rakyat dengan mengelompokkan masyarakat kepada kaum adat dan kaum paderi. Di Jawa kita mengenal kelompok masyarakat Islam abangan (masyarakat yang masih tidak mau meninggalkan kebudayaan lama setelah Islam masuk) dengan kelompok ulama yang menjalankan ajaran Islam yang lurus.

Barat tahu dan sadar jika muslim tidak mudah untuk dikuasai jika mereka telah berazam untuk berjihad. Adu domba kemudian menjadi cara mereka untuk memecah belah kesatuan umat.

Dengan modal harta, dan ilmu yang tidak bermanfaat barat mengambil sebagian muslimin untuk diajari memecah belah kaumnya sendiri.

Dengan jargon-jargon kosong produk beracun para siswa barat kembali ke tengah kaumnya untuk menyebarkan ajaran-ajaran yang menyimpang dan menghasilkan keraguan pada beberapa muslim yang lemah pemahamannya.

Kebanggaan seorang muslim yang bersaksi bahwa Allah, Tuhannya dan Muhammad SAW adalah nabi dan rasul terakhir direduksi menjadi sebuah sikap otoriter dan doktrin yang perlu di dekonstruksi.

Kebanggaan itu direnggut dengan bayang-bayang tenggang rasa semu, mereka merendahkan ulama dan meninggikan orientalis.

Mungkin hadirnya racun di masyarakat muslim adalah jalan yang dipilihkan Allah kepada umatNya agar jelas siapa kawan dan siapa lawan.

About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: