About these ads

Palestina Dan Alam Pemikiran Pemuda Muslim Saat Ini

moto g

Isu tentang konflik Palestina dan Israel adalah sebuah topik pembicaraan yang sangat sensitif. Berdasarkan latar belakang bacaan setiap orang mempunyai pendapatnya masing-masing mengenai topik ini.

Saya teringat dengan perdebatan saya dengan adik yang baru lulus kuliah beberapa minggu yang lalu mengenai konflik Israel dan Palestina. Adik saya kuliah di jurusan Hubungan Internasional di salah satu universitas negeri di Padang. Sebagai seorang mahasiswa saya cukup bangga dengan prestasi yang telah ia raih. Adik saya orangnya kritis dan mempunyai pendapat sendiri yang mungkin bertentangan dengan pendapat mayoritas. Sekali ia berpendapat ia akan mempertahankan pendapat tersebut kuat-kuat. Inilah yang menjadi keprihatinan saya.

Solusi yang paling ideal untuk konflik Israel dan Palestina yang berlarut-larut adalah sebuah kesepakatan untuk saling menghormati dan menghargai dari masing-masing pihak terhadap eksistensi pihak lain. Adik saya cenderung untuk menyalahkan Perlawanan Islam di Gaza yang sepertinya tidak menghormati hak hidup orang Israel. Menurut dia para pejuang kemerdekaan Palestina (khususnya di Jalur Gaza) harus berhenti untuk mengirimkan roket ke arah Israel. Dengan menembakkan roket ke arah Israel menurut adik saya perlawanan Palestina tidak menghargai hak hidup dan hak tetangga mereka negara Israel. Pendapatnya itu saya sanggah karena berdasarkan pengetahuan saya tentang konflik Israel dan Palestina, para pejuang perlawanan Islam di Jalur Gaza tidak serta merta menembakkan roket ke arah Israel tanpa alasan yang jelas. Penembakan roket ke arah Israel hanya sebuah reaksi akibat sebuah tindakan Israel yang tidak menghormati hak-hak dasar orang-orang Palestina.

Saya bertanya perihal eksistensi Palestina dan Israel, siapakah yang lebih dahulu ada (jika saya tidak salah ingat karena kejadiannya cukup lama). Adik saya menjawab Israel lebih dahulu ada dibanding Palestina. Ia menguatkan pendapatnya dengan kehadiran Palestine Liberation Organization (PLO) yang dipimpin oleh alm. Yasser Arrafat kala itu. Palestina yang tergambar dalam alam pikirannya seperti Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau Fretilin di Timor Leste. Pandangannya tidak salah, karena ia mengambil sejarah dari artikel-artikel keluaran PBB. Namun yang menjadi sebuah perhatian saya adalah pembelokan sejarah yang dialami oleh anak muda seperti adik saya ini.  Sejarah dunia telah mencatat bahwa Palestina sebagai sebuah pemerintahan administratif dibawah ke khalifahan Turki Utsmani. Saat kekhalifahan terakhir runtuh dan Inggris secara sepihak memberikan tanah Palestina ke pemuka Zionis untuk mendirikan negara ilegal Israel, mandatnya berjudul British mandate of Palestine. Artinya Palestina, walaupun menurut sejarawan Barat tidaklah berbentuk negara, telah hadir sebelum Israel.

Karena perbedaan literatur yang kami miliki maka pandangan kami, kakak beradik, sangat berbeda dalam menanggapi konflik Israel dan Palestina (khususnya Jalur Gaza).

Mengenai korban jiwa dan juga kerugian materil yang diderita oleh pihak Palestina, adik saya merasa terganggu dengan postingan korban anak-anak. Para pejuang itu berlindung di belakang warganya untuk mendeskreditkan Israel, begitu kira-kira yang ia sampaikan. Anak-anak yang menjadi korban perang dieksploitasi demi tujuan politis dari kelompok perlawanan Palestina. Jika tidak mengenal bagaimana adik saya berpendapat tentu saya akan sangat marah dengan apa yang ia sampaikan. Saya pun merasa terganggu dengan banyaknya korban jiwa dari warga sipil Palestina. Apalagi Jalur Gaza adalah kawasan terpadat di dunia, sehingga Israel sebenarnya tidak perlu repot-repot “mencari target ” dalam membombardir Jalur Gaza karena saking padatnya satu bom saja dapat menghancurkan satu kawasan yang terdiri dari beberapa keluarga. Mungkin tidak pernah adik saya membaca bahwa warga Jalur Gaza selalu berucap Hasbiyallahu ni’mal wakil. Allah Sebaik-baik Pelindung. Mereka telah siap untuk menerima kematian, karena bagi setiap warga Palestina, khususnya Jalur Gaza, Syahid Asma Amaanina (Syahid adalah cita-cita mereka yang tertinggi). Bacalah surat cinta dari seorang istri pemimpin Brigade Al Qassam.

Saya heran apakah adik saya itu tidak pernah membaca artikel dimana seorang perempuan politisi Israel mendukung pembunuhan oleh tentara Zionis yang menargetkan wanita dan anak-anak Palestina? Tentunya jika ia membaca artikel tersebut ia akan berpikir ulang untuk mendukung agresi Israel dan merubah solusinya untuk konflik Israel dan Palestina.

Saya khawatir jikalau banyak pemuda dan pemudi muslim yang kuliah baik di jurusan sastra inggris atau di ilmu politik dan hubungan internasional menjadi tidak mengetahui akar dari konflik Palestina dan Israel. Saya khawatir jika mereka lebih banyak mengambil pendapat dari sejarawan atau ilmuan Zionis dan terperangkap dalam utopia sehingga mengesampingkan hak-hak saudaranya seiman atau membunuh hati nuraninya dalam melihat keganasan Zionis Israel dalam melakukan genosida terhadap rakyat Palestina, Jalur Gaza.

About these ads

Leave a Reply

%d bloggers like this: